Isra’ dan Mi’raj Sebuah Perjalanan Intelektual Membangun Keragaman Menuju Keberadaban


Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan langit, melainkan cermin perjalanan kemanusiaan. Ia hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi justru menguatkan keberpihakan pada kehidupan yang lebih adil, beradab, dan bermakna.


Dalam Isra’, Nabi Muhammad bergerak melintasi ruang dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sebuah simbol bahwa spiritualitas sejati tidak pernah terlepas dari konteks sosial dan sejarah. Masjidil Aqsha bukan ruang kosong; ia adalah pusat pergulatan kemanusiaan, tempat perjumpaan nilai, budaya, dan perjuangan. Di sanalah pesan penting disematkan: iman harus memiliki kesadaran sosial.

Mi’raj kemudian mengangkat Nabi ke dimensi langit, mempertemukan manusia dengan Tuhannya. Namun yang menarik, hasil dari perjalanan spiritual tertinggi itu bukan perintah untuk menyepi, melainkan shalat ritual yang menuntut kedisiplinan, kesetaraan, dan kepedulian. Shalat mengajarkan bahwa manusia berdiri sejajar tanpa sekat status, dan sujud bersama sebagai pengakuan atas keterbatasan diri.

Di tengah kondisi sosial hari ini ketimpangan, kekerasan simbolik, lunturnya empati, dan krisis makna Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa kualitas manusia tidak diukur dari seberapa tinggi ia berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa dalam ia peduli pada sesama. Spirit Mi’raj menuntut peningkatan kualitas akhlak, kepekaan terhadap penderitaan sosial, dan keberanian untuk hadir bagi yang terpinggirkan.

Budaya, dalam konteks ini, menjadi jembatan. Ia adalah bahasa nilai yang membumikan spiritualitas agar tidak melayang abstrak. Melalui budaya seni, tradisi, dan kebersamaan pesan langit diturunkan menjadi tindakan nyata; saling menjaga, saling menguatkan, dan saling memanusiakan.

Maka, memperingati Isra’ Mi’raj bukanlah mengulang cerita lama, melainkan menyalakan kembali kesadaran: bahwa perjalanan menuju Tuhan harus berjalan seiring dengan perjalanan merawat kemanusiaan. Bahwa semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin lembut hatinya, semakin adil sikapnya, dan semakin peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Isra’ Mi’raj adalah undangan untuk naik secara spiritual—dan turun secara sosial.

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad akan dilaksanakan atas kerjasama Republik Gubuk, AMAN Indonesia dan IPNU/IPPNU Ranting Banjarejo Pakis Malang, pada Kamis, 15 Januari 2026, pukul 19.30 WIB, bertempat di Balai Desa Banjarejo, Pakis, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menghadirkan Gus Syifa sebagai pemateri utama dan Ning Nazil sebagai pemateri pendamping, dengan Prada Ayu sebagai moderator. Acara akan dimeriahkan dengan lantunan shalawat dan banjarian bersama Arrema Al-Qullub Banjarejo Pakis, serta disiarkan secara live streaming.

Posting Komentar

0 Komentar